Sabtu, 23 April 2011

Buku Keris Antik : Kebo Hijo




















Buku keris antik berjudul "Kebo Hijo" ini sarat informasi terkini perihal pelaku dunia perkerisan di Yogyakarta.
Buku yang mengulas benda kuno ini berukuran : 21 x 15 cm.
Tebal buku tentang barang tempo doeloe ini 240 halaman
Penerbit buku djadoel ini adalah : Bentara Budaya Yogyakarta 2008.
Harga Rp 65.000,- belum ongkir

Empu atau pembuat keris yang terkenal adalah empu Supa. Konon khabarnya empu supa diminta oleh raja untuk menjaga permaisurinya yang sedang sakit. Pada suatu malam ada keris yang keluar dari peti milik raja, itulah keris Condong Campur. Keris milik empu Supa yang bernama Sengkelat juga keluar dari sarungnya. Kedua keris itu bertempur diudara, diakhiri dengan rontoknya pamor dan kembang kacang milik keris Condong Campur. Keris ini lalu dibakar dan ketika akan dipalu, ia melesat ke langit bercamput dengan teluh braja dan berubah menjadi bintang berekor.

Empu Supa juga dikabarkan berkelana ke Jawa Timur hingga ke Madura, dari empu keris ke empu keris dia belajar ilmu perkerisan. Sampailah di negeri Blambangan. Karena hebatnya buatan empu Supa, hingga raja Blambangan memerintahkan untuk membuat duplikat keris Kyai Sengkelat miliknya. Empu supa berhasil membuat 2 keris kembar kyai Sengkelat yang siapapun tak bisa membedakannya, sementara yang asli disembunyikan dibawah batu sebatang sungai. Raja Blambangan amat puas dengan 2 keris tiruan itu. Empu Supa kemudian pergi meninggalkan Blambangan sambil membawa pulang keris Kyai Sengkelat ke Tuban, karena dari sanalah keris itu berasal, sebelum dicuri oleh maling sakti Celuring dengan ilmu gendamnya yang hebat, atas perintah raja Blambangan.

Dalam buku ini juga ada legenda keris Empu Gandring. Legenda ini bermula dari seorang perempuan bernama Ken Endog yang didatangi dewa api bernama Brahma. Diladang itulah Brahma berbuat buruk terhadap keluarga Ken Endog. Suami Ken Endog dilarang mendekati isterinya, karena dalam kandungan Ken Endog ada anak Dewa Brahma. Kalau memaksa mati.
Ternyata benar, matilah suami Ken Endog kemudian. Orang bilang anak Ken Endog sangat panas. Ketika lahir, bayi itu dibuang ibunya di kuburan. Ditemukan oleh seorang maling (pencuri) bernama Lembong. Lembong menamai anak itu Ken Angrok. Ketika besar ia diajari mencuri oleh ayah pungutnya. Ken Angrok tumbuh menjadi berandal dan tukang judi yang menghabiskan harta Lembong dan Ken Endog. Ia pergi dari dusunnya, dan bertemu dengan Bango Samparan, seorang penjudi juga. Kemudian Ken Angrok tumbuh menjadi penjudi dan pemerkosa. Tapi setiap kali hendak dikeroyok orang kampung ia selalu dilindungi dewata.
Ada seorang pendeta bernama Dang Hyang Lohgawe yang mendapat suara gaib ketika sedang bersemedi agar mencari Ken Angrok. Kemudian Lohgawe berhasil membawa pulang Ken Angrok ke Tumapel, dan diaku anak. Di Tumapel inilah tempat tinggal Ken Dedes, seorang gadis yang cantiknya luar biasa, anak seorang pujangga bernama empu Purwa.
Tunggul Ametung, akuwu Tumapel datang kerumah empu Purwa tapi tidak bertemu sang empu. Ia tidak sabar, sehingga Ken Dedes dibawa lari ke rumah Tunggul Ametung.

Perbuatan tidak menyenangkan ini akhirnya membuat Empu Purwa marah dan menjatuhkan kutuknya : "Semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan isterinya dirampas orang".

Kemudian Ken Dedes mengandung. Pada suatu hari diajak piknik oleh Tunggul Ametung. Karena kurang hati-hati pakaiannya tersingkap ketika turun dari kereta. Dilihat betisnya oleh Ken Angrok. Maka tampaklah sesuatu dibalik pakaian Ken Dedes yang menyala terang. Ken Arok segera mencari tahu hal ini kepada Dang Hyang Lohgawe. Ternyata perempuan yang menyala rahimnya itu disebut Ardanareswari. Barang siapa memperistri wanita ini akan menjadi raja.

Ken Angrok segera menemui Empu Gandring, memesan keris dalam waktu 5 bulan harus selesai. Pas 5 bulan kemudian Angrok datang ketempat Empu Gandring, tapi kerisnya belum selesai. Angrok marah, dan menikamkan keris itu kepada pembuatnya. Sebelum meninggal Empu Gandring masih sempat meninggalkan kutukan :" Kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati oleh keris itu, sebanyak 7 orang akan mati oleh keris itu"

Itulah kisah keris Empu Gandring, dan memang betul sejak itu berturut-turut Ken Arok dab keturunannya mati ditikam oleh keris karya Empu Gandring yang belum selesai tersebut.

Banyak sekali legenda tentang empu dan keris sakti di Indonesia. Silahkan anda baca sendiri buku "Kebo Hijo" untuk mendapat informasi yang lainnya.

Banyak informasi yang bisa kita dapat dalam buku ini, misalnya saja didaerah Ein Tongtong Madura bagian timur, sekarang ini banyak dibuat keris baru dengan cara yang cepat. Di dusun Banyusumurup, Girireja, Imogiri, Bantul banyak dibuat perabot keris seperti warangka, mendak, pendok dan singep (selubung) keris.
Juga di Kotagede, pengrajin membuat mendak (cincin keris), dan pendhok yang terbuat dari emas, perak dan tembaga.
di daerah Banyumeneng terdapat seorang mranggi atau ahli membuat warangka dari berbagai kayu langka.
Dan tentu saja di Yogyakarta dan pasar Beringharjo banyak pedagang keris yang sanggup menerima pesanan keris yang dikehendaki pemesan.

Empu tertua bernama Ramadi (tahun 152) yang bersemayam di gunung Merapi. Keris tertua disebut tangguh Segaluh (keris model Segaluh), pada masa pemerintahan Empu Sindhok yang berada di Jawa Tengah. Kemudian tangguh Pajajaran, Majapahit dan sebagainya. Tapi bukti nyata belum ditemukan, sehingga teori ini setengah legenda setengah sejarah.

Menurut catatan dari keraton Yogyakarta sesudah Empu Ramadi, kemudian menyusul empu Isakadi (tahun 216), Empu Suksekadi (Th 230), Bramagedali (261), Saptogati (265), Pujanggati (418), Sugati (522), Dewayasa (522), Mayang (725), Sarpadewa (1062), Rathayadi (827), Ramayadi (827), Gadawisesa (941), Empu Jangga (1119), Windusarpa (1170), Andayasangkala (1186), Empu Marcukunda (1284), Hanggareksa (1303), Domas (1381), Sempu Sura (1429).

Macam-macam besi aji : Karang Kijang, Pulosani dan Karinduaji, Mangangkang, Walulin, Katub, Kamboja, Ambal, Winduadi, Tumpang, Werani, Welangi, Tarate, Malelarujun, Malelagendaga, Kenur, Tumbuk dan besi Balitung.

Tangguh keris. Yang disebut tangguh adalah model atau gaya. Ada 9 tangguh keris, antara lain : Pajajaran, Majapahit, Tuban, Sedayu, Demak, Pajang, Matar
Buku keris antik berjudul "Kebo Hijo" ini sarat informasi terkini perihal pelaku dunia perkerisan di Yogyakarta.
Buku yang mengulas benda kuno ini berukuran : 21 x 15 cm.
Tebal buku tentang barang tempo doeloe ini 240 halaman
Penerbit buku djadoel ini adalah : Bentara Budaya Yogyakarta 2008.
Harga Rp 65.000,- belum ongkir- BUKU ASELI

2 komentar: