Rabu, 30 Maret 2011

Telepon Antik Kuno dan Jadul






Memandang telepon antik ini kita kaget pada besarnya.
Mengangkat telepon antik ini kita kaget pada beratnya.
Untuk mengambil tangkainya perlu kita tarik dulu kebawah, sebuah per akan mengerut dan tangkai telepon bisa kita ambil.
Buatan Jerman.
Mungkinkah ini telepon periode awal pembuatannya ?
Harga Rp 2,5 jt

Selasa, 29 Maret 2011

Tempolong Jadul Double Happiness



Tempolong jadul yang kian antik.
Dijaman sekarang bisa dialih fungsi sebagai pajangan atau pot/ vas bunga.
Gambar huruf mandarin double happines yang terdapat pada tempolong ini menunjukkan bahwa tempat ini dahulu merupakan perlengkapan lamaran dalam budaya tionghoa.
Pada waktu melamar, pihak pengantin pria mengirimkan nampan, cangkir, baskom, dan tempolong, yang semuanya terbuat dari kaleng tebal yang dilapis cat enamel.
Kondisi New Old Stock, barang baru belum pernah dipakai.
Ukuran : Tinggi 22 cm
Harga Rp 150.000,- belum termasuk ongkir.

Sabtu, 26 Maret 2011

Botol Lawas Aqua-Vitae Tegal



Botol NV Mineraalwaterfabriek AQUA-VITAE
Sungguh antik, nomor telefonnya masih sedikit sekali : 211
Harga Rp 40.000,- + Ongkir
TERJUAL

Kamis, 24 Maret 2011

Iklan Antik dari Kaleng : Carl Schlieper





Bagian belakang iklan Carl Schlieper : seng bagian pinggir dilipat

Iklan Antik dari Kaleng : Carl Schlieper
Ukuran : 48 x 33 cm
Harga Rp 300.000,- + Ongkir
Carl Schlieper adalah nama yang dekat sekali dengan pisau lipat. Aneka jenis pisau lipat cantik telah diproduksi dengan merk Carl Schlieper Solingen, bergambar mata, Eye Brand.

Solingen

Solingen pertama kali disebutkan pada 1067 oleh seorang penulis sejarah yang disebut area "Solonchon". variasi awal dari nama termasuk "Solengen", "Solungen", dan "Soleggen", meskipun nama modern tampaknya telah digunakan sejak akhir abad 14 dan awal 15. Dalam Perang Dunia II Kota Tua benar-benar hancur oleh serangan udara pada tahun 1944 dan 1.040 orang meninggal,

Kota Solingen didirikan pada 1374.

Solingen disebut "Kota Blades", karena telah lama terkenal untuk pembuatan pedang halus, pisau, gunting dan pisau cukur yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan terkenal seperti DOVO Solingen , W├╝sthof , JA Henckels , Boker , Eickhorn-Solingen, dan banyak produsen lain. Wilkinson juga didasarkan di sini.

Solingen adalah sebuah kota di Nordrhein-Westfalen , Jerman . Hal ini terletak di ujung utara kawasan yang disebut Bergisches Tanah , sebelah selatan kawasan Ruhr


Carl Schlieper

Pertama pabrik pisau lipat Solingen's dibangundi lembah Weinsberger pada tahun 1801 untuk Peter Daniel Peres, seorang pedagang yang sudah memulai bisnisperalatan makan pada tahun 1792, berusia 1

TERJUAL

Carl Schlieper Eye Brand - Iklan Kaleng Yang Antik






Iklan antik dari seng : Carl Schlieper Cap Mata.
Terbuat dari kaleng tebal dan pinggirnya dilipat.
Ukuran : 48 x 33 cm
H300
TERJUAL


Nama Carl Schlieper amat terkenal didunia antik karena sempat merajai pasar barang logam tempo doeloe. Bagi maniak pisau lipat atau pocketknife nama Carl Schlieper amat akrab ditelinga sebagai seniman pisau lipat yang cantik-cantik, bahkan ada yang bergagang tanduk rusa.

Nama Carl Schlieper juga dekat dengan Eye Brand, sebuah merk bergambar mata. Merk Eye Brand ini memproduksi banyak barang, mulai palu, alat cukur rambut, hingga cangkul.

Dan kota dimana banyak barang besi baja diproduksi adalah Solingen, sebuah kota di Jerman yang dekat dengan sungai besar yang menggerakkan kincir-kincir pabrik-pabrik besi baja.

Senin, 21 Maret 2011

Tempat Minyak Antik Biru 2


Tempat minyak lampu antik berwarna biru dihiasi dengan ornamen ukiran.
Harga Rp 325.000,- + Ongkir
SOLD

Tempat Minyak Antik Biru Kembang 1


Tempat minyak lampu gantung berwarna biru dan dihiasi ornamen ukiran.
Harga Rp 325.000,- + ongkir
SOLD

Gelas Susu Klim


Gelas promo reklame susu Klim.
Harga Rp 20.000,- + Ongkir
SOLD

Gelas Anker Bier



Gelas promo reklame Anker Bier.
Harga Rp 15.000,- + ongkir

Schlieper + Kalender 1942

BOOKED


Ada bekas ketuaan pada kalender ini, tampak pada hitamnya lubang kertas yang hangus akibat tersentuh kawat berkarat (oksidasi)

Ukuran 42,5 x 32
Bahan : karton
Harga Rp 125.000 + ongkir


Alkisah pada suatu hari yang cerah saya menemukan selembar reklame antik cap mata Schlieper, karton tebal bergambar Schlieper ini dan kemudian saya juga menemukan kalender harian 1942 yang antik ini. Keduanya saya gabungkan ....... saya modifikasi ..... jadilah kalender jadul ini.

Kondisi kalender : Lengkap dan utuh

BOOKED

Toys Blaasvoetbalspel Mainan Anak Sepak Bola






Blaasvoetbalspel
Mainan anak toys antik yang terbuat dari kertas tebal/karton , terdiri dari 2 gawang dan beberapa silinder kertas tebal berwarna.
Kondisi : salah satu gawang ada yang putus, tapi masih bisa disambung/ dilem.
Ukuran kotak : 13,8 x 26,5 cm
Harga Rp 125.000,- + ongkir

Jumat, 18 Maret 2011

Gembok Antik Primitif Oriental


Gembok tempo doeloe berdampingan dengan anak kuncinya

Gembok mulai dimasuki anak kuncinya, jangan keliru yang dimasuki adalah lubang yang paling bawah, posisi anak kunci tengkurap

Anak kunci sudah masuk menekan bagian dalam gembok, sehingga terbuka sedikit gemboknya

Gembok terbuka lebih lebar

Ditarik terus E e eh copot, maka terlihatlah isi jeroan gembok itu

Gembok primitif antik oriental.
Harga Rp 250.000,-

SUDAH TERJUAL


Gembok

Gembok paling tua ditemukan dari jaman Romawi, sekitar 500 SM-300 M. Gembok dengan pegas ditemukan di York, Inggris, dari sekitar tahun 850 M.

Sejarah Pita Venus Atau Celana Gembok Pelindung Wanita

Korset besi yang katanya melindungi wanita dari perkosaan, ternyata punya sejarah panjang. Dulu merupakan penjagaan suami agar istrinya tidak berselingkuh, lama-lama justru diakali agar bisa menyeleweng. Namun alasan pokoknya tetap demi harkat kemanusiaan wanita, selain secara fisik memang menyiksa. Logam yang menempel ketat tanpa menyisakan celah itu mempersulit gerak langkah serta aktivitas buang hajat pemakainya.

Awal terkuaknya “kekejaman” celana dalam alias badong, yang dulu juga disebut Pita Venus, ini bermula di Pulau Falster, Denmark. Seorang dokter, sejarawan sekaligus penemu, Ole Worm (1588 – 1654) mengungkapkan, begitu ketatnya celana dalam logam ini, sampai ujung jari pun tidak bisa masuk ke celah antara bahan besi dan tubuh! Jika seorang istri yang malang mengenakannya ingin buang air, dia harus merengek dulu pada suami agar celana dalamnya dibuka. Pasalnya, untuk membukanya diperlukan kunci, dan kunci itu dipegang suami.

Teman dan kerabat wanita itu juga mengetahuinya secara kebetulan. Suatu ketika, pasangan itu mengundang mereka makan. Saat mabuk-mabukan, mereka meminta wanita itu menanggalkan pakaiannya. Para tamu terkejut melihat kenyataan itu. Mereka pun mengadukan kasus ini ke pengadilan dan suami si wanita itu pun dikucilkan.

Bergerigi
Kasus ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat biasa. Para wanita dari kalangan atas juga tidak bebas dari celana dalam kejam ini. Charlotte Aglae, putri Herzog von Orleans, yang terkenal sebagai wanita tercantik di zamannya, datang ke Italia untuk menikah dengan Herzog von Modena. Dia harus tunduk pada peraturan setempat, sehingga harus juga mengenakan pelindung seram itu.

Contoh paling jelas betapa kejamnya pria-pria di zaman Renaisans dan Barock yang memaksa istri-istri mereka memakai pelindung mengerikan itu adalah celana dalam milik Katharina von Medici (1519 – 1589). Badong pengaman milik wanita yang dikenal sebagai Ratu Prancis ini, terbuat dari ujung gading gajah, yang dikaitkan pada lingkar gelang besi oleh sebuah gesper. Untuk memperketat atau memperlonggar digunakan semacam penahan bergigi. Lingkar besi itu dibungkus dengan bahan sutera, agar tidak menimbulkan lecet. Lengkung ujung gading itu mengikuti kontur anatomis dan posisinya menutupi bagian kemaluan. Bagian ujung depan yang bercelah dan bergerigi dari alat “penyiksa” itu kini masih bisa disaksikan di Museum de Cluny di Paris.

Makna dan tujuan peralatan ini simpel, yakni hanya suami yang boleh menyentuh istrinya, karena istri dianggap sebagai “benda” milik pribadi suami. Itulah sebabnya wanita yang dinikahi sah saja “disimpan” dalam pelindung yang terbuat dari besi. Fantasi para suami ala Renaisans tidak hanya sebatas masalah hak milik, melainkan juga untuk menjaga penampilan. Wanita dianggap sebagai makhluk sembrono dan tidak baik, sehingga pria harus berjaga diri.

Isteri : Harta Yang Harus Dilindungi
Insinyur Konrad Kyeser, yang mengupas “gembok” khusus ini panjang lebar dalam buku setebal 1.405 halaman, menyebutnya sebagai “sabuk Florentin” karena Florence dianggap sebagai tempat asal alat ini. Memang nama ini sangat cocok. Di kota pusat dagang yang megah di abad XV-an ini, orang tidak hanya ingin tercatat punya uang banyak, tapi juga memiliki harta. Termasuk “memiliki” istri.

Rupanya, sabuk kesetiaan yang menyedihkan ini tidak hanya terdengar di Venesia, Padua, Como, dan Bergamo, tapi juga dari seluruh daratan Eropa. Wanita-wanita Romawi maupun istri orang-orang kaya di Milano juga mengenakan alat ini. Hebatnya, mereka membuatnya dari emas dan perak, dihiasi pula dengan batu-batu permata mahal.

Sejarah mengenai “alat pelindung kesetiaan” tampaknya tidak lepas dari tingkah laku kaum pria yang ingin tampil hebat sekaligus punya kuasa. Pria macam begitu dianggap pria tulen, yaitu berhasil menaklukkan wanita “besi”. Misalnya saja kisah si pahlawan perang (begitu memang dia ingin disebut) dan pembual Prancis, Claude Alexandre de Bonneval. Konon, suatu ketika dia terlibat dalam suatu petualangan cinta. Dia berhasil menaklukkan seorang wanita terkemuka dari Como. Konyolnya, jalan menuju kebahagiaan terhalang oleh celana besi. Terpaksa Bonneval membunuh suami wanita itu dalam suatu duel. Setelah itu, dia pun buru-buru kabur ke Wina, tempat dia menceritakan kisah petualangannya itu.

Dalam banyak kisah lain pun digambarkan, selama beberapa abad pelindung kesucian memegang peranan penting dalam hidup masyarakat terpandang. Novelis Italia, Antonio Cornazzano (1429 – 1484), misalnya, bercerita tentang seorang saudagar kaya, yang mempunyai istri cantik yang banyak diingini pria lain. Karena itu, sebelum melakukan pelayaran panjang dan lama, dia merasa perlu membuatkan istrinya sebuah pelindung kesetiaan.

“Semua wanita itu tidak stabil,” tulis Raja Franz I, yang naik takhta Prancis tahun 1515, pada salah satu dinding kamar tidurnya. Sri Baginda memang sangat paham sifat ini karena dia banyak berkecimpung dalam petualangan cinta. Saat melakukan kampanye perang pun dia senantiasa membawa serta “pacar-pacarnya”. Ada wanita Norman berkulit putih, ada wanita Afrika berkulit hitam, putri petani Skandinavia, dan wanita bangsawan, yang setiap saat siap melayaninya.

Nafsu erotis penguasa ini tampaknya tidak pernah terpuaskan. Ketika suatu saat dia merayu istri Baron d’Orsonvielliers yang sangat cantik, dia harus menerima kenyataan kalau wanita itu “terkunci”. Walau demikian, Alessandro Neri, seniman pandai besi yang ikut bersamanya, memberinya jalan keluar. Dia menyorongkan tangan kanannya yang kuat masuk ke antara tubuh dan ikat pinggang wanita itu, yang berada terlindung dalam sebuah bantalan, dan berhasil melepaskan gembok.

Ini bisa saja terjadi
Dalam sejarah gairah seks di lingkungan kerajaan Prancis pada abad XVI, tergambarkan dengan jelas adanya kebutuhan pada gembok-gembok semacam itu. Alexander Schulz dalam bukunya Das Band der Venus, memperlihatkan sikap kaum wanita terhadap perlakuan ini. Para pria dianggap tidak punya perasaan, brutal, sementara para istri memperlihatkan keunggulannya di balik penampilan yang lemah lembut. Mereka mengenal tukang besi hebat, yang bisa menyediakan anak-anak kunci. “Mereka dapat dengan sesuka hati melakukan kesukaan mereka, tanpa sepengetahuan suami,” tulis Schulz.

Sebagai contoh, gambar lambang keluarga Jerman, Melchior Schedel di tahun 1550. Lambang ini menggambarkan seorang wanita telanjang yang hanya mengenakan badong kesucian itu, dengan tangan satu mengangkat tinggi sebuah pundi-pundi uang, sementara tangan yang lain memegang sebuah anak kunci. Di gambar itu terdapat tulisan, “Ini bisa saja terjadi.” Pada masa itu pun uang mampu membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Hal serupa terlihat pada sebuah cetakan lempeng tembaga berukir keluaran abad XVII. Di kaki tempat tidur duduk seorang wanita tanpa busana, cuma mengenakan celana dalam kesetiaan, tengah menyerahkan kunci pelindung dari besi itu pada suaminya yang siap pergi. Tanpa sepengetahuan suaminya, di balik tirai, tampak sudah menunggu kekasih gelapnya. Di samping si kekasih tampak Mak Comblang yang sudah siap dengan kunci duplikat di tangannya.

Percintaan Gaya Istana
Kaum suami yang memasung istri-istri mereka dengan badong kesetiaan, menurut pandangan dua ahli sejarah Prancis, Philippe Aries dan Georges Duby, ada hubungannya dengan rasa khawatir mereka terhadap pria lain. Mereka meyakini, organ kelamin wanita (kebalikan milik pria) bersifat sangat pribadi, dan tersembunyi, karenanya harus dijaga dengan baik.

Bagian tubuh itu senantiasa dianggap dalam bahaya. Bisa sangat menggoda, sehingga menempatkan si suami dalam risiko kehilangan kehormatan. Apalagi kalau si wanita sangat menarik.

“Wanita itu makhluk pesolek, sembrono. Kalau di rumah kita banyak wanitanya, hati-hati.” Demikian pemahaman umum masa itu. Maka, pada usia sekitar 12 tahun, anak gadis harus mulai dipingit dan diawasi ketat oleh ayah maupun saudara laki-lakinya. Jangan biarkan mereka berplesiran, ngomong bisik-bisik, mejeng di depan jendela terbuka! Sebaliknya, tekankan soal kemurnian, kesopan-santunan, keramahan, kehormatan, serta rajin dan bekerja tenang, agar si “makhluk kurang pikiran” ini bisa mengusir godaan.

Di abad XIV para gadis di lingkungan masyarakat menengah sudah dinikahkan pada usia 16 tahun, tanpa pemikiran akan kebahagiaan maupun perkembangan diri si anak.

Tanpa disadari, kebiasaan ini mengakibatkan tumbuhnya moralitas ganda para wanita di masa setelah pernikahan. Dalam buku Liebessitten der Volker, Paul Frischauer menggambarkan apa yang disebut “percintaan gaya istana”, yang dianut para wanita istana. Ketidaksetiaan dan perselingkuhan yang mereka lakukan berpegang pada buku seni bercinta penyair Romawi, Ovid (43 SM – 17 SM). Dalam buku itu disebutkan, kesetiaan jiwa-raga seorang wanita tidak berlaku utuh bagi suaminya. Sesuai dengan semangat zaman itu, paling tidak dia boleh melayani seorang kekasih. Sebagai imbangan, pasangannya juga boleh menikmati kesenangan dengan wanita lain.

Guillame de Mauchault, seorang sastrawan Prancis di abad XIV, menggambarkan dalam sebuah syair, seorang wanita cantik tengah memeluknya sambil memberikan sebuah anak kunci dari emas. “Sudah aman!”

Kekejaman kepada istri digambarkan pula dalam roman percintaan karya pengacara Nicolas Chorier dari Grenoble. Alkisah, Juliane tak lama setelah malam perkawinannya, dipaksa oleh suaminya, Jacondus, untuk mengenakan celana dalam khusus.

“Apa itu yang kau pegang? Kok saya seperti melihat emas yang berkilauan! Apa yang harus saya lakukan dengan itu?” tanya Juliane. Ternyata, suaminya memaksa dia memakai badong, dan mengunci “celana dalam kesetiaan” itu. Alat yang terdiri atas tiga lapis lempeng besi itu menempel begitu ketat, sampai ujung jari pun tidak bisa masuk antara celah besi dan tubuh.

“Sekarang sudah aman!” kata si suami puas. Padahal, dengan sabuk itu, istri mengalami kesulitan berjalan. Karena untuk itu, kedua kakinya harus dalam posisi berjauhan, agar tidak lecet. Komentar si suami cuma, “Mula-mula memang begitu. Lama-lama kamu akan biasa!”
Dari : fakta-dan-unik.blogspot.com

SOLD

Lampu Gantung Antik Biru 2













Harga Rp 450.000,- + Ongkir
Lampu gantung antik berwarna biru dengan logo Camerco di tempat minyaknya. Putaran sumbunya bermerk Asahi.
Lampu ini bisa ditempelkan ke dinding dengan paku, karena sudah disediakan sebuah plat besi berlubang disampingnya.
SUDAH TERJUAL

Lampu Minyak Antik Biru 1



Lampu gantung dengan tempat minyak berwarna biru beerlogo Camerco.
Antik dan lawas.
Harga Rp 450.000,- + ongkir
Lampu minyak antik ini bisa ditempelkan ke dinding dengan paku, karena sudah disediakan sebuah plat besi berlubang disampingnya.
SUDAH TERJUAL

Senin, 14 Maret 2011

Cangkir Lama Enamel Lurik Ijo Jadul

Ukuran : diameter : 6 cm
Cangkir lama berlapis cat enamel yang jadul. Bagian bawahnya rata.
stok (jumlah) cangkir = 4
Harga satu cangkir Rp 35.000,- belum termasuk ongkos kirim

Sabtu, 12 Maret 2011

Setrika Kuningan Antik Besar

SOLD OUT



Setrika Antik.
Ukuran jumbo, berat.
Bahan : kuningan.
Kondisi : Sudut bagian belakang kanan somplak sedikit.
Harga Rp 400.000,- belum ongkir

Tahukah anda asal kata setrika ? Asalnya dari bahasa Belanda: strijkijzer.
Jaman dahulu ada setrika yang terkenal yaitu setrika jago. Disebut demikian karena setrika ini punya gerendel pengunci yang berbentuk ayam jado. Bahannya biasanya dari besi, walaupun ada juga yang terbuat dari kuningan.

Ternyata ada setrika kecil, setrika portable, yang digunakan untuk menyetrika dasi, saputangan dll yang kecil-kecil. Alasan lain mengapa dibuat setrika dalam ukuran mini adalah ringan bila dibawa bepergian.


SOLD OUT

Kamis, 10 Maret 2011