Sabtu, 30 April 2011

Buku Gambar Oemboel Indonesia


Buku ini berjudul "Gambar Oemboel Indonesia" karya Ibnu Wibi Winarko.
Pada buku inilah anda dapat menemukan data tentang cara produksi gambar umbul, dan siapa mereka yang aktif bermain dalam produksi umbul. Bahkan siapa nama pelukis gambar umbul bisa anda temukan dalam buku yang padat ini.
Buku ini berkisah tentang gambar umbul yang antik-antik seputar tahun 1940 hingga kini.
Judul : Gambar Oemboel Indonesia.
Ditulis oleh Ibnu “Benu” Wibi Winarko
Diterbitkan oleh : Penggemar Toelen Gambar Oemboel pada tahun 2010
Tebal : 136 halaman
Ukuran buku : 24,5 x 17 cm
Harga : Rp 65.000,-

Sejarah Gambar Umbul Di Indonesia

Ada dua dugaan tentang asal usul gambar umbul.
Yang pertama Kartu Rokok Tiruan. Sejak 1870 produsen rokok membuat Cigarette Cards yang disisipkan sebagai bonus di produknya. Produk ini sampai juga ke Indonesia karena kolonialisme. Pada tahun 1920 an kartu rokok tiruan ini mulai diproduksi di Indonesia, meniru gambar Thomas Bear& Son Ltd London, hanya diperkecil ukurannya menjadi 2,3 x 3,5 cm. Pembuatnya bernama Lie Bik Hiang dan teman-temannya, dari Yogyakarta. Tujuannya agar anak-anak bisa mendapat kartu serupa dengan tidak perlu beli produknya.
Dugaan kedua adalah Kemunculan Komik. Pada akhir tahun 1890 an komik pertama muncul didunia yaitu Yellow Kid pada tahun 1896 di Amerika. Hingga tahun 1930 bermunculan komik Flash Gordon, Jungle Jim, Tarzan. Komik Indonesia pertama muncul di harian Sin Po pada hari Sabtu tanggal 2 Agustus 1930, karya Kho Wan Gie. Kemudian pada awal 1931 muncul Put On karya Kho Wan Gie juga.
Dugaan ketiga yaitu Penggabungan antara dugaan “kartu rokok tiruan” dengan “kemunculan komik”. Selanjutnya ada yang membuat kartu rokok tiruan lengkap dengan teks narasi seperti komik. Judul-judulnya adalah Mickey Mouse, Flash Gordon ,Tarzan, King Kong dan lain-lainnya. Sedang yang bertema local adalah : Gareng Petruk, Cerita si Kancil, Djoko Said, Djoko Tingkir, Parta Krama, Rara Mendut dan beberapa serial wayang purwa.

Periode awal munculnya gambar umbul adalah tahun 1940 – 1950.
Ciri khas umbul jaman ini adalah ejaannya yang masih berupa huruf oe untuk menulis huruf u. Umbul jaman ini judulnya : Petroek Gareng Naik Ajoen-Ajoen, Bloemencorso, dan Petroek Dadi Baji. Pada jaman ini juga beredar Foto Umbul Generasi Pertama yaitu Tarzan, King Kong, Kelompok Binatang, dan Bunga,
Umbul seri wayang sangat dominan pada periode ini, ditemukan umbul wayang dengan kertas licin tentang Ramayana dan Mahabarata.
Pada periode ini ditemukan umbul dengan cerita petualangan dan fantasi seperti Tarzan, flash Gordon, Mickey Mouse, Si Kantjil, Oliver Hardy dan Stan Laurel.
Umbul Rara Mendoet, Damarwoelan, Soenan Kalidjogo, dan Soenan Bonang,
Pada tahun inilah muncul umbul yang bagus yaitu seri Memedi (hantu/ setan).
Pada masa inilah Lie Bik Hiang di Jogjakarta , yang memiliki kongsi dagang dibidang teh (The Contact), woor tembakau, pepermunt, dan Hopjes (permen), menyisipkan satu atau dua umbul pada setiap bungkus tehnya. Umbulnya sangat sederhana, hanya dicetak satu warna diatas kertas berwarna merah, hijau atau putih.

Periode tahun 1950 – 1970
Tanda pada periode ini adalah cara menulis tj dan dj untuk huruf c dan j.
Pada awal periode ini tidak banyak umbul dibuat, mungkin karena jaman itu kertas masih sulit berhubung baru saja selesai perang dunia ke 2. Baru menjelang peristiwa G 30 S dan sesudahnya gambar umbul mulai banyak dibuat. Judul seperti Batman, Durango Kid, Kapten Marvel - Perang Didalam Bintang, Flash Gordon, Djangkrik Wesi, Darna, Superman, Pantom – Lawan Gerombolan Monjet Raksaksa, Binatang Raksaksa, dan lain-lain.
Pada era ini muncul umbul cerita silat.: Pedang Pusaka Sakti, 8 Pendekar Sakti, Dragon Inn, Dragon Swamp, The Sword of Sword, Jade Raksa, dan lain-lain.
Periode ini muncul umbul cerita legenda seperti : Robinhood, Alibaba, Aladin dan Hasan, Putri Duyung, Pinokio, Ivan Hoe, Pangeran Valiant, Spartacus, Hercules, Samson dan Delilah, Benhur, Wambi, Bomba, Tarzan dan lain-lainnya.
Umbul wayang purwa pun muncul dalam periode ini.

Periode tahun 1970 – 1980
Pada tanggal 16 Agustus 1972 pemerintah Indonesia menetapkan berlakunya EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), sekaligus mengakhiri masa berlakunya Ejaan Soewandi.
Gambar umbul yang beredar pada masa ini masih mirip dengan masa sebelumnya. Judulnya adalah : Pangeran Jack Pembunuh Raksaksa, 8 Pendekar Sakti, Samson and Delilah, Hercules, Ten Comandement seri A, Putri Dujung, Spartacus, Raja Pedang, Ali Baba, Aladin dan Lampu Wasiat.
Terjadi pengembangan dari sebelumnya, umbul yang semula 25 kotak dikembangkan menjadi 50 kotak, seperti : Superman, Prince Valiant, Robin Hood, dan Samson and Delilah.

Periode tahun 1980 - 1990
Tanda bahwa sebuah umbul diterbitkan pada periode ini antara lain adalah penggunaan kertas tebal, dan dicetak pada kedua sisinya. Ukuran kertas mirip dobel kwarto 25,5 x 36,5 cm. Isi kotaknya berjumlah 36.
Pada jaman inilah muncul Foto Umbul generasi kedua. Isinya adalah foto-foto penyanyi cilik yang sedang tenar pada waktu itu seperti Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha, Bobby Sandhora, dan lain-lain.
Penyanyi atau bintang film yang dibuat umbul adalah : Rhoma Irama dan Rita Sugiarto, Ratno Timoer dalam film Sibuta Dari Gua Hantu, pelawak Jalal dan Karjo AC/DC, Benyamin Suaeb, Film Batman, film James Bond dll.
Pada masa inilah muncul gambar umbul Gundala, Sembrani, Maza, Pangeran Mlaar, karya Hasmi. Teguh Santosa membuat umbul Johny Quest, Kelompok Lakon, kisah Mahabharata : Dewi Setyawati, Lahirnya Bhisma, dan Dewi Amba.
Djoni Andrean membuat umbul : Conan, Tarzan, Sang Perusak Melawan Rhodar, Star Wars dan Pendekar-Pendekar Negeri Tayli.
Wid Ns membuat Godam – Roh Setan, Godam – Ramlex, Aquanus, Gurdha dan Deni Manusia Ikan.
Periode ini banyak judul umbul yang berasal dari cerita film di televisi seperti : Boneka Si Unyil, Kum Kum, Man From The Atlantis, Jana of The Jungle, Land of The Giant, ACI (Aku Cinta Indonesia). Film laga layar lebar juga dibuat umbul, seperti : Rambo, Rocky, Carok, Jaka Sembung, Sibuta Kontra Jaka Sembung, dan lain-lainnya.

Periode selanjutnya bisa anda temukan pada bukunya yang berjudul : Gambar Oemboel Indonesia. Ditulis oleh Ibnu “Benu” Wibi Winarko dan diterbitkan oleh : Penggemar Toelen Gambar Oemboel pada tahun 2010
Ukuran buku : 24,5 x 17 cm
Tebal : 136 halaman
Harga : Rp 65.000,-

Nampan Enamel Antik Gambar Bunga




Nampan antik ini terbuat dari logam tebal yang dilapis dengan cat enamel.
Ukuran garis tengah 40 cm
Berat 1 kilogram.

SOLD OUT

Sabtu, 23 April 2011

Fotocopy Buku Sepeda Antik : Indische Fietsen

















Buku ini sekarang dijual dalam kualitas FOTOCOPY, karena yang asli sudah tak ada.
Harga hanya Rp 65.000,-
Gambar TIDAK BERWARNA (hitam putih saja). Ukuran buku : 16,5 x 21 cm Tebal buku : 224 halaman Harga Rp 65.000,-

Buku tentang sepeda antik ini berjudul Pit Onthel 2010 Indische Fietsen. Diantara isinya yang bermacam-macam, ada sejarah sepeda Gazelle. Tokohnya bernama Willem Kolling, tahun 1892 bekerja sama dengan Rudolf Arentzen. Pada tahun 1902 mereka membeli tanah dan mendirikan pabrik sepeda dengan merk Gazelle.
Tahun 1937 mesin-mesin pabrik dibongkar oleh tentara Jerman dan diangkut ke Jerman. Sisanya diledakkan. Gazelle menderita kerusakan yang hebat karena perang.
Tahun 1963 Gazelle melakukan merger dengan Batavus, namun hanya 2 tahun lalu bubar. Tahun 1968 Gazelle mengambil alih merk Juncker, Simplex, dan Locomotie serta merk moped terkenal Berini. Tahun 1971 Gazelle diambil alih oleh Tube Investment (TI). Tahun 1987 TI menjual divisi sepedanya kepada Derby Cycles Corp, sebuah perusahaan multi nasional dengan kantor pusat di New York. Derby juga memiliki pabrik sepeda Raleigh, Sturmey - Archer, serta merk-merk sepeda Jerman yang terkenal : Kalkhoff, Rixe, Winora dan Staiger.
Tahun 2001 Derby Cycles Corporation menjual Gazelle kepada Dana Investasi Belanda "Gilde Buy Out Fund". Sekarang pun Gazelle masih memimpin industri sepeda di Belanda. Gazelle adalah sepeda yang nyaman dipakai dan tangguh.

Selain Gazelle, buku ini juga mengulas sejarah pabrik sepeda VEENO, SIMPLEX, BATAVUS,FONGERS, JB. BROOKS, Hobs of Barbican, Humber, Raleigh, Sturmey Archer, Schwinn, Sunbeam, dan Triumph.

Dalam buku tentang sepeda antik ini, juga ada cerita tentang mbah Tris, seorang dengan usia 72 tahun yang punya show room sepeda kuno dan banyak didatangi tamu dari mana-mana. Rumahnya di Bantul, sering dikunjungi beberapa onthelis dari Godean, atau pedagang sepeda dari luar kota yang memilih-milih onderdil sepeda dirumahnya. Mbah Tris juga punya onggokan sepeda tua yang tingginya hingga dua setengah meter ditumpuk dekat kolam ikan rumahnya. Rumah mbah Tris seakan punya magnit bagi pecinta sepeda, yang menarik mereka untuk berkunjung.

Buku sepeda antik Indische Fietsen ini memuat foto sepeda antik milik para kolektor, dari halaman 50 hingga 106. Merk sepedanya ada Batavus, Burgers, BSA, Fendt, Fongers, Gazelle, Hercules, Humbers, Mister, NSU, Pathfinder, Phillips, Premier, Raleigh, Roodman, Royal, Rudge, Simplex, Selebihnya adalah foto reklame sepeda, full color dari halaman 193 sampai 210. Isi buku ini beragam sekali, mulai dari sejarah sepeda, Indische Fietsen, Sepeda di Pedesaan Australia, Hima, kendaraan setia sang perwira, Ngatidjo, Mbah Tris, Berburu sepeda onthel, Foto-foto sepeda, Asesoris sepeda, sepeda gardan, Macam-macam sepeda, dan Cerita tentang sepeda.
Buku asli sudah terjual habis.
Buku yang ada : FOTOCOPY
Gambar TIDAK BERWARNA (hitam putih saja).
Ukuran buku : 16,5 x 21 cm
Tebal buku : 224 halaman
Harga Rp 65.000,-

Buku Keris Antik : Kebo Hijo




















Buku keris antik berjudul "Kebo Hijo" ini sarat informasi terkini perihal pelaku dunia perkerisan di Yogyakarta.
Buku yang mengulas benda kuno ini berukuran : 21 x 15 cm.
Tebal buku tentang barang tempo doeloe ini 240 halaman
Penerbit buku djadoel ini adalah : Bentara Budaya Yogyakarta 2008.
Harga Rp 65.000,- belum ongkir

Empu atau pembuat keris yang terkenal adalah empu Supa. Konon khabarnya empu supa diminta oleh raja untuk menjaga permaisurinya yang sedang sakit. Pada suatu malam ada keris yang keluar dari peti milik raja, itulah keris Condong Campur. Keris milik empu Supa yang bernama Sengkelat juga keluar dari sarungnya. Kedua keris itu bertempur diudara, diakhiri dengan rontoknya pamor dan kembang kacang milik keris Condong Campur. Keris ini lalu dibakar dan ketika akan dipalu, ia melesat ke langit bercamput dengan teluh braja dan berubah menjadi bintang berekor.

Empu Supa juga dikabarkan berkelana ke Jawa Timur hingga ke Madura, dari empu keris ke empu keris dia belajar ilmu perkerisan. Sampailah di negeri Blambangan. Karena hebatnya buatan empu Supa, hingga raja Blambangan memerintahkan untuk membuat duplikat keris Kyai Sengkelat miliknya. Empu supa berhasil membuat 2 keris kembar kyai Sengkelat yang siapapun tak bisa membedakannya, sementara yang asli disembunyikan dibawah batu sebatang sungai. Raja Blambangan amat puas dengan 2 keris tiruan itu. Empu Supa kemudian pergi meninggalkan Blambangan sambil membawa pulang keris Kyai Sengkelat ke Tuban, karena dari sanalah keris itu berasal, sebelum dicuri oleh maling sakti Celuring dengan ilmu gendamnya yang hebat, atas perintah raja Blambangan.

Dalam buku ini juga ada legenda keris Empu Gandring. Legenda ini bermula dari seorang perempuan bernama Ken Endog yang didatangi dewa api bernama Brahma. Diladang itulah Brahma berbuat buruk terhadap keluarga Ken Endog. Suami Ken Endog dilarang mendekati isterinya, karena dalam kandungan Ken Endog ada anak Dewa Brahma. Kalau memaksa mati.
Ternyata benar, matilah suami Ken Endog kemudian. Orang bilang anak Ken Endog sangat panas. Ketika lahir, bayi itu dibuang ibunya di kuburan. Ditemukan oleh seorang maling (pencuri) bernama Lembong. Lembong menamai anak itu Ken Angrok. Ketika besar ia diajari mencuri oleh ayah pungutnya. Ken Angrok tumbuh menjadi berandal dan tukang judi yang menghabiskan harta Lembong dan Ken Endog. Ia pergi dari dusunnya, dan bertemu dengan Bango Samparan, seorang penjudi juga. Kemudian Ken Angrok tumbuh menjadi penjudi dan pemerkosa. Tapi setiap kali hendak dikeroyok orang kampung ia selalu dilindungi dewata.
Ada seorang pendeta bernama Dang Hyang Lohgawe yang mendapat suara gaib ketika sedang bersemedi agar mencari Ken Angrok. Kemudian Lohgawe berhasil membawa pulang Ken Angrok ke Tumapel, dan diaku anak. Di Tumapel inilah tempat tinggal Ken Dedes, seorang gadis yang cantiknya luar biasa, anak seorang pujangga bernama empu Purwa.
Tunggul Ametung, akuwu Tumapel datang kerumah empu Purwa tapi tidak bertemu sang empu. Ia tidak sabar, sehingga Ken Dedes dibawa lari ke rumah Tunggul Ametung.

Perbuatan tidak menyenangkan ini akhirnya membuat Empu Purwa marah dan menjatuhkan kutuknya : "Semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan isterinya dirampas orang".

Kemudian Ken Dedes mengandung. Pada suatu hari diajak piknik oleh Tunggul Ametung. Karena kurang hati-hati pakaiannya tersingkap ketika turun dari kereta. Dilihat betisnya oleh Ken Angrok. Maka tampaklah sesuatu dibalik pakaian Ken Dedes yang menyala terang. Ken Arok segera mencari tahu hal ini kepada Dang Hyang Lohgawe. Ternyata perempuan yang menyala rahimnya itu disebut Ardanareswari. Barang siapa memperistri wanita ini akan menjadi raja.

Ken Angrok segera menemui Empu Gandring, memesan keris dalam waktu 5 bulan harus selesai. Pas 5 bulan kemudian Angrok datang ketempat Empu Gandring, tapi kerisnya belum selesai. Angrok marah, dan menikamkan keris itu kepada pembuatnya. Sebelum meninggal Empu Gandring masih sempat meninggalkan kutukan :" Kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati oleh keris itu, sebanyak 7 orang akan mati oleh keris itu"

Itulah kisah keris Empu Gandring, dan memang betul sejak itu berturut-turut Ken Arok dab keturunannya mati ditikam oleh keris karya Empu Gandring yang belum selesai tersebut.

Banyak sekali legenda tentang empu dan keris sakti di Indonesia. Silahkan anda baca sendiri buku "Kebo Hijo" untuk mendapat informasi yang lainnya.

Banyak informasi yang bisa kita dapat dalam buku ini, misalnya saja didaerah Ein Tongtong Madura bagian timur, sekarang ini banyak dibuat keris baru dengan cara yang cepat. Di dusun Banyusumurup, Girireja, Imogiri, Bantul banyak dibuat perabot keris seperti warangka, mendak, pendok dan singep (selubung) keris.
Juga di Kotagede, pengrajin membuat mendak (cincin keris), dan pendhok yang terbuat dari emas, perak dan tembaga.
di daerah Banyumeneng terdapat seorang mranggi atau ahli membuat warangka dari berbagai kayu langka.
Dan tentu saja di Yogyakarta dan pasar Beringharjo banyak pedagang keris yang sanggup menerima pesanan keris yang dikehendaki pemesan.

Empu tertua bernama Ramadi (tahun 152) yang bersemayam di gunung Merapi. Keris tertua disebut tangguh Segaluh (keris model Segaluh), pada masa pemerintahan Empu Sindhok yang berada di Jawa Tengah. Kemudian tangguh Pajajaran, Majapahit dan sebagainya. Tapi bukti nyata belum ditemukan, sehingga teori ini setengah legenda setengah sejarah.

Menurut catatan dari keraton Yogyakarta sesudah Empu Ramadi, kemudian menyusul empu Isakadi (tahun 216), Empu Suksekadi (Th 230), Bramagedali (261), Saptogati (265), Pujanggati (418), Sugati (522), Dewayasa (522), Mayang (725), Sarpadewa (1062), Rathayadi (827), Ramayadi (827), Gadawisesa (941), Empu Jangga (1119), Windusarpa (1170), Andayasangkala (1186), Empu Marcukunda (1284), Hanggareksa (1303), Domas (1381), Sempu Sura (1429).

Macam-macam besi aji : Karang Kijang, Pulosani dan Karinduaji, Mangangkang, Walulin, Katub, Kamboja, Ambal, Winduadi, Tumpang, Werani, Welangi, Tarate, Malelarujun, Malelagendaga, Kenur, Tumbuk dan besi Balitung.

Tangguh keris. Yang disebut tangguh adalah model atau gaya. Ada 9 tangguh keris, antara lain : Pajajaran, Majapahit, Tuban, Sedayu, Demak, Pajang, Matar
Buku keris antik berjudul "Kebo Hijo" ini sarat informasi terkini perihal pelaku dunia perkerisan di Yogyakarta.
Buku yang mengulas benda kuno ini berukuran : 21 x 15 cm.
Tebal buku tentang barang tempo doeloe ini 240 halaman
Penerbit buku djadoel ini adalah : Bentara Budaya Yogyakarta 2008.
Harga Rp 65.000,- belum ongkir- BUKU ASELI

Jumat, 22 April 2011

Buku Gambar Umbul Antik : Thong Thong Shot


Seri wayang punakawan


Seri wayang punakawan

Umbul Sunan Bonang

Umbul dengan cerita rakyat

Seri wayang memedi 1

Seri wayang memedi 2

Seri wayang kelompok memedi 3

Seri wayang memedi 3

Seri wayang memedi 4












Buku gambar umbul antik ini berjudul Thong Thong Shot, yaitu nama lain dari wayang Petruk yang mengenakan pakaian kebesaran seorang raja. Tokoh Thong Thong Shot ini amat disukai anak-anak pada tahun 1960 an. Buku tentang umbul djadoel ini ukurannya 21 x 14,5 cm, tebal 144 halaman, penerbit Bentara Budaya Yogyakarta tahun 2010. Buku umbul kuno ini dihiasi banyak gambar umbul hitam putih dan berwarna.
Harga Rp 65.000,- belum ongkir

Sekilas Gambar Umbul

Awal adanya gambar umbul di Indonesia adalah tahun 1939 - 1940 an. Pada saat itu beberapa perusahaan rokok dan kelontong membuat barang umbul isi 20 kotak, berukuran 32 x 25 cm. Isinya cerita wayang seperti Harjuna Kawin atau Partokromo. Umbul ini dibubuhi tulisan : Copyright British American Tobacco (Java) Ltd.
Yang kedua adalah kartu berukuran 10 x 7 cm bergambar tokoh wayang kulit seperti Gatotkaca dsb, pada tahun 1950 an. Dari dua penemuan ini diduga mulai tahun 1950 an lah awal munculnya gambar umbul 30 kotak dan 50 kotak. Thema ceritanya juga mulai bervariasi seperti Hercules, Benhur, Darna, dsb. Hingga tahun 1970 dan 1980 tiba, sampailah masa kejayaan gambar umbul. Perusahaan seperti Gunung Kelud dan Kencana giat mencetak gambar umbul.
Kapan sebuah gambar umbul dibuat ? Tahun sebelum 1950 Petruk Dadi Ratoe misalnya, menggunakan ejaan lama, huruf u ditulis oe. Tahun 1950 - 1972 banyak umbul dibuat, seperti Kapten Atom, Laba-Laba Merah, Marabunta, Bruce Lee, Superman, Pandji Tengkorak, Cleopatra, Jim Brown, Sembrani, Pangeran Diponegoro Seri Lakon, Mahabaratha, Pangeran Mlaar, Godam dan Gundala, Maza, Aquanus, Deni, Sinbad, X-Men, Donald Bebek, Captain Amerika, Spiderman dsb.
Ada yang unik pada saat ini, karena umbul dibuat dengan teknik fotografi, bukan dilukis. Tokoh-tokoh yang dibuat umbul saat itu ialah yang sedang terkenal seperti Achmad Albar, Oma Irama, Ira Mayasopha, Chica Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Bruce Lee, dll. Hingga sekarang masih digunakan teknik ini untuk membuat umbul, tokohnya misalnya : Sin Chan, Doraemon, Satria Baja Hitam dsb.
Lukisan pada gambar umbul kuno sangat menarik, karena tokoh-tokohnya unik sekali. Hal ini terlihat pada seri Wayang Memedi. Kreatifitas nenek moyang kita dalam menggambarkan tokoh-tokoh imajiner mereka amat kaya sensasi, campuran humor, horor dan seni rupa .... akhirnya menghasilkan karya yang tak pernah kehilangan pesona sepanjang jaman.


Buku gambar umbul antik ini berjudul Thong Thong Shot, yaitu nama lain dari wayang Petruk yang mengenakan pakaian kebesaran seorang raja. Tokoh Thong Thong Shot ini amat disukai anak-anak pada tahun 1960 an. Buku tentang umbul djadoel ini ukurannya 21 x 14,5 cm, tebal 144 halaman, penerbit Bentara Budaya Yogyakarta tahun 2010. Buku umbul kuno ini dihiasi banyak gambar umbul hitam putih dan berwarna.
Harga Rp 65.000,- belum ongkir