Kain Batik Kuno Dari Pekalongan Jadi Primadona Barang Antik

Kain batik lama dari Pekalongan, satu kota dipantai utara Jawa Tengah, saat ini menjadi incaran para pemburu barang antik di pulau Jawa. Usia kain itu bisa 80 - 70 tahun, sejak masa diproduksinya. Mengapa kain Pekalongan ?

Konon khabarnya pada jaman kolonial belanda dulu, menjelang datangnya Jepang, industri kain batik dari kota Pekalongan mengalami jaman keemasannya. Pada saat itu kaum wanita terutama dari kalangan suku Tionghoa masih mengenakan kain batik untuk pakaian sehari-harinya, dilengkapi dengan baju kebaya encim yang berenda-renda. Nah sebagian dari mereka, yang tergolong mampu ekonominya memilih untuk memesan ke Pekalongan dalam urusan kain batiknya. Disana banyak pabrik kain batik yang terkenal. Siapa sajakan mereka ?

Eliza van Zuylen, dan Oey Soe Tjoen adalah jawaranya. Walaupun selain dua orang ini masih berjajar nama-nama lain seperti : Te Ti Sit, Oh Yu Mei, dll namun nama Soe Tjoen amat harum saat ini dikalangan pedagang batik antik. Bahkan menurut penuturan mamah-mamah usia lanjut sekarang ini, nama Zuylen sangat populer pada jaman dahulu. Konon wanita pedagang batik menggendong dagangannya dari rumah ke rumah untuk menawarkan kain batik dengan bahasa : " Nyah, Zuylen nyah ..."

Eliza van Zuylen is a batik maker legend in Indonesia. She is a Dutch woman. Eliza van Zuylen lived in Indonesia arround 1863 - 1947 when Dutch were colonizing Indonesia. Below are Eliza van Zuylen's sign.

Dutch batik came into being & developed between 1840 & 1940, almost always in the form of a sarong and initially made only for the Dutch & Indo Dutch Eurasians, and primarily in the coastal region (Pekalongan).

Nampaknya, corak dan pola batik dari Jawa yang beredar sekarang bukan murni kreasi orang Jawa. Tahun 1969 Harmen Veldhuisen mengumpulkan beraneka batik dari pantai utara Pulau Jawa. Menurut Veldhuisen, corak dan pola batik-batik itu, selain memperlihatkan pengaruh India dan Cina, juga Eropa.

Kolektor batik asal Belanda ini memiliki beragam batik buatan tahun 1870 hingga 1940. Ko- leksinya dibikin sejak akhir abad ke-19 oleh perusahaan- perusahaan batik yang dikelola orang Indo-Eropa umumnya wanita yang tinggal di Hindia Belanda. Misalnya, Von Franquemont dan Van Zuylen. Makanya karya mereka disebut ''Batik Belanda''. Konon, dulu, produksi Indo-Eropa ini digemari oleh wanita Belanda, Cina, dan pribumi yang kaya.

Eliza van Zuylen adalah maestro pembuat batik di Indonesia kelahiran Belanda. Dia tinggal di Indonesia sekitar tahun 1863-1947 saat Belanda menjajah Indonesia. Eliza van Zuylen juga mempelopori kebiasaan membubuhkan tanda tangan pada setiap lembar batik mereka.

Ciri khas kain batik Pekalongan adalah motif buket bunga atau buketan. Buket berukuran besar ini diletakkan di bagian badan maupun kepala kain, bagian badan dihiasi lambang kemakmuran yang disebut Horn of Abundance. Bunga buket dan burung gereja adalah salah satu ciri utama Batik Belanda.

Lain Van Zuylen lain pula Oey Soe Tjoen. Kecantikan batik Oey Soe Tjoen tidak hanya karena polanya yang bunga atau kupu-kupu itu. Kecermatan dan proses membatik serta mewarnai yang lumayan rumit, njlimet, memberinya nilai tersendiri.

Pada tahun 1930, Oey Soe Tjoen mewarisi usaha dari orang tuanya. Soe Tjon bersama isterinya Kwee Tjoan Giok, merubah cara kerja dari cap ke tulis.

Usaha Oey makin maju, produksinya disukai pengusaha Kudus, Magelang, dan beberapa daerah lain. Kebanyakan mereka pengusaha rokok dan tembakau. Bahkan karena sangat terkenal, kain batik Oey Soe Tjoen pernah menjadi mas kawin wajib bagi para pengusaha Tionghoa.

Setelah Oey Soe Tjoen meninggal dunia pada tahun 1975, karyawan dan karyawati pembatik itu tetap setia bekerja disitu. Perusahaan dipegang oleh Oey Kam Long, anak ketiga Oey Soe Tjoen. Isteri Oey Kam Long atau Muljadi Widjaja bernama Istianti Setiono, sarjana lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Sanata Dharma Yogyakarta. Istianti kemudian dilatih oleh mertuanya Kwee Tjoan Giok, untuk menjadi penerus perusahaan keluarga Oey Soe Tjoen.

Mengapa batik antik mahal ? Karena pembuatannya memakan waktu lama. Satu batik dengan motif tertentu bisa dikerjakan oleh 15 orang. Lama pembuatannya bisa sampai satu setengah tahun, dan harganya sama dengan harga satu sepeda motor.

Oey Soe Tjoen memproduksi kain batik bermotif : pagi sore, merak, pringgodani, dan bunga bungaan—mawar, seruni, tulip, dan anggrek.

Pada jaman pendudukan Jepang di Indonesia, Oey membuat batik Hokokai, khas Negeri Matahari Terbit, dengan motif merak, bunga, dan kuku. Warnanya lengkap.

Mengapa kain batik Pekalongan yang lama diburu kolektor ?

Ternyata kualitas pembuatannya memang menakjubkan. Batik yang baik dan berharga mahal memenuhi kriteria tertentu, diantaranya adalah : Detail. Gambar burung misalnya, akan dibuat dengan paruh yang runcing. Latar belakang atau background tidak dibiarkan polos tapi diberi titik-titik atau raster yang menarik. Titik atau garis amat halus dan rapi. Tentu saja bahan kainnya harus cap sen. Sen adalah mata uang kuno yang nilainya rendah. Alkisah demi kualitas, selembar kain batik saat itu bisa makan waktu pengerjaan hingga satu setengah tahun - Astaga!

Mengapa diminati pemburu barang antik ? Sebab selembar kain batik lama dan bekas ini bisa menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Kain yang tua dan terkadang sudah berlubang atau sudah sobek dan dijahit ini, bisa dijual dengan harga berjuta-juta. Yang mulus tanpa cacad bisa berpuluh juta rupiah harganya. Seorang pemburu kain batik antik berkata : " Main batik seperti ATM " katanya. Maksudnya mungkin seperti punya mesin uang ATM, begitu mudahnya kita menarik uang dari mesin tersebut.