Jumat, 17 Desember 2010

Toples Kaca Shimada Osaka Japan

SOLD OUT



Toples Shimada Osaka Japan
Tinggi (tutup tidak diukur) : 12 cm
Garis Tengah ; 9,5 cm
Harga Rp 75.000,- perbuah belum ongkir

Toples kaca yang berasal dari masa yang lalu. Beberapa puluh tahun yang lalu, nenek-nenek kita mempergunakan toples2 seperti ini untuk berbagai keperluan, baik untuk di dapur maupun untuk menghidangkan kue-kue tradisional kepada para tamu yang datang.

Dahulu toples2 ini diimport dari beberapa negara, ada yang dari Hamburg dan yang banyak kita temui adalah yang dari Osaka Jepang. Yang berusia lebih muda memang sudah di buat di Indonesia, tepatnya di kota Soerabaia, Tjeribon maupun Bandoeng. Asal toples ini dapat di baca pada tulisan yang terdapat di tutupnya.

Toples Kaca Bisa Dilukis



KINI, toples kaca dianggap kuno. Orang lebih memilih toples dari plastik, karena bentuknya menarik dan praktis. Selain itu juga lebih awet ketimbang toples kaca yang mudah pecah.

Di saat masyarakat beralih ke bahan plastik, Yunita Wijaya malah melihat ada peluang bisnis di toples kaca. Tapi, perempuan kelahiran Surabaya itu “mengolah” dulu toples-toples kaca itu sebelum menjualnya ke pasar. Ia memberi sentuhan seni terlebih dulu, agar produk yang dianggap ketinggalan zaman itu punya nilai jual tinggi. Yunita memberi sentuhan seni dengan melukis toples.

"Mungkin banyak orang meninggalkan toples kaca, tapi dengan melukisnya, maka nilainya jadi berbeda. Saya melihat belum banyak orang menjual produk seperti ini," tutur Yunita. Berbekal keyakinan itu, pada 2007, Yunita mulai menekuni bisnis ini. Modalnya adalah gelas kaca, toples, berikut cat dan ide kreatif dalam melukis. Ia menamai usahanya Bejana Handicraft dan Souvenir.

Dalam melukis, Yunita lebih banyak menjadikan bunga atau daun sebagai objek. Ia menggunakan warna-warna cerah, seperti merah, biru, dan hijau. Awalnya memang tidak mudah menjual produk semacam ini. Masyarakat masih menilai toples dari sisi fungsi. Lukisan dan berbagai nilai tambah yang dibubuhkan Yunita, masih dianggap tak penting.

Yunita butuh waktu satu tahun untuk memperkenalkan produknya. Ia juga rutin ikut pameran. Salah satu eksibisi yang tak pernah ia lewatkan adalah Inacraft, yang digelar saban tahun di Jakarta. "Setelah mengikuti berbagai pameran, terutama Inacraft, pelanggan saya bertambah pesat," ujarnya. Kalau di tahun kedua ia hanya mampu menjual 300 glass painting per bulan, kini permintaannya sudah naik menjadi 700 glass painting per bulan.

Penjualan toplesnya selalu laku keras menjelang Lebaran. “Untuk momen-momen seperti ini saya membuat toples edisi khusus Lebaran," jelasnya. Yunita membanderol toples lukisnya mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 450 ribu per buah. Sementara harga tempat lilin Rp 15.000 - Rp 25.000, dan gelas kecil Rp 15.000 per unit. "Untuk toples yang antik itu saya jual sampai Rp 250.000, padahal ketika saya beli dulu, sebelum di apa-apakan, cuma Rp 10.000," jelasnya.

Dari sekadar tempat menaruh makanan dan pajangan, produk Yunita kini juga diminati sebagai suvenir pernikahan. Dari menjual aneka produk berbahan kaca itu, Yunita meraup pendapatan Rp 20 juta per bulan. "Majinnya bisa mencapai 50%," paparnya. Menurut Yunita, usaha seperti ini masih dapat berkembang. Syaratnya, strategi memasarkannya harus tepat. Salah satu cara pemasaran yang pas adalah lewat pemeran. Dari berpameran, Yunita kini punya banyak pelanggan di Jakarta, ketimbang di Surabaya, tempatnya tinggal.

Hambatan terbesar di bisnis ini, kata Yunita, adalah sulitnya mencari pelukis. Sejauh ini, ia lebih banyak melukis sendiri. Kalaupun perlu bantuan, ia melibatkan keluarga. Itupun hanya pekerjaan ringan, seperti finishing atau pengepakan. Karena masalah tenaga kerja ini lah, ia tak melayani pesanan dalam jumlah besar.

Kendala lain adalah bahan toples antik. Saat ini ia belum punya pemasok tetap. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang satu ini, ia harus terjun langsung ke pasar mencari toples kaca.

Dari : peluangusaha.kontan.co.id
SOLD OUT

1 komentar: